Search

Transfusi Darah: Mengenali Berbagai Manfaat, dan Bahaya Risikonya

Transfusi darah merupakan praktik medis yang sudah banyak dilakukan. Perawatan ini akan sangat membantu bagi korban yang kehilangan banyak darah. Dengan prosedur yang baik dan tepat, transfusi darah mampu menyelamatkan nyawa korban. Meski demikian, prosedur ini juga memiliki risiko yang membahayakan baik bagi penerima maupun pendonor jika tidak memerhatikan prosedur yang sesuai.


Tubuh yang kehilangan banyak darah akan mengalami gangguan fungsi jaringan dan organ karena berkurangnya asupan oksigen dan nutrisi yang diedarkan oleh sel darah merah. Transfusi darah membantu pasien dengan kondisi yang berbahaya ini.


Berbagai Komponen Darah untuk Transfusi

Tidak semua pasien transfusi membutuhkan komponen darah yang sama. Hal tersebut tergantung dari kondisi masing-masing pasien, apakah mereka membutuhkan sel darah merah saja, trombosit saja, dan lain-lain. Jika mereka membutuhkan komponen darah tertentu, maka darah hasil donor akan diproses dulu di laboratorium sebelum bisa diberikan kepada pasien.


Berikut ini lima jenis transfusi darah yang dapat diberikan kepada pasien:

1. Darah Utuh

Darah donor ini berisi semua komponen darah lengkap seperti sel darah putih, merah, keping darah dan plasma darah. Transfusi menggunakan darah utuh umumnya dilakukan pada pasien yang kehilangan darah sebanyak lebih dari 30% volume cairan tubuh, misalnya pada korban kecelakaan atau pasien operasi.


2. Sel Darah Merah

Satu kantong darah umumnya berisi 150-220 ml sel darah merah murni tanpa plasma darah. Transfusi jenis ini umumnya diberikan pada pasien yang mengalami anemia, korban kecelakaan, serta penderita kelainan darah seperti leukemia dan thalasemia.


3. Konsentrat Platelet

Platelet sangatlah penting untuk proses pembekuan darah. Sayangnya, donor darah jenis ini terbilang lebih sulit karena akan membutuhkan lebih dari seorang pendonor untuk bisa mendapatkan satu kantong platelet. Selain itu, masa simpan konsentrat platelet juga lebih singkat, jadi tidak memungkinkan untuk menyiapkan atau membuat cadangannya terlebih dahulu. Pemberian platelet biasanya diberikan kepada pasien dengan masalah gangguan pembentukan platelet maupun gangguan fungsi dan jumlah platelet.


4. FFP (Fresh Frozen Plasma)

Komponen darah ini berwarna kekuningan dan diproses dari darah utuh. FFP ini mengandung komponen plasma darah yang mengandung albumin, faktor pembekuan darah, faktor VIII dan imunoglobulin. Komponen ini biasanya diberikan pada pasien yang memiliki gangguan pembekuan darah serta untuk mencegah pendarahan pada pasien yang menggunakan obat pengencer darah.


5. Cryo-AHF (Cryoprecipitated Anti Haemolytic Factor)

Komponen ini kaya akan fibrinogen dan faktor VIII yang penting untuk proses pembekuan darah. Oleh karena itu, donor darah jenis ini umumnya diberikan pada pasien dengan kelainan faktor pembekuan darah, misalnya hemofilia tipe A atau kelainan Von Willdebrand.


Manfaat Transfusi Darah Bagi Pasien

Transfusi darah memiliki beragam manfaat bagi keselamatan pasien, seperti yang sudah diuraikan sedikit di atas. Tindakan ini dapat mengatasi berbagai kondisi medis tertentu berikut ini beberapa diantaranya:

1. Anemia

Salah satu pengobatan pada anemia adalah dengan transfusi darah. Meski demikian, pengobatan ini umumnya hanya diberikan pada penderita anemia berat, baik karena kekurangan besi maupun anemia aplastik. Prosedur ini akan dilakukan ketika jumlah hemoglobin pasien kurang dari 8 g/dL.


2. Perdarahan

Pasien yang mengalami perdarahan berat juga dapat terbantu dari transfusi darah. Jika tidak mendapatkan pertolongan segera, pasien yang mengalami perdarahan berat akan mengalami syok dan mengakibatkan kematian. Perdarahan berat bisa terjadi karena beberapa hal, misalnya pascaoperasi, terjadinya luka berat, perdarahan pasca melahirkan, pecahnya varises esofagus, dan lain-lain.


3. Infeksi dan Luka Bakar

Transfusi darah juga dapat diberikan pada penderita infeksi dan luka bakar serius. Plasma darah diberikan sebagai salah satu penanganan pada pasien yang menderita luka bakar berat atau luas.


4. Kelainan Darah

Beberapa penyakit kelainan darah seperti hemofilia berisiko membuat pasiennya mengalami kekurangan darah. Oleh karena itu, mereka biasanya akan membutuhkan transfusi darah untuk mengatasi kondisi tersebut.


5. Gagal Hati atau Ginjal

Transfusi darah juga diberikan pada pasien yang menderita gagal hati maupun ginjal berat. Pasalnya pasien dengan gangguan fungsi hati berat memiliki risiko tinggi mengalami gangguan perdarahan maupun anemia. Sedangkan penderita gagal ginjal berat umumnya tidak mampu menghasilkan cukup sel darah merah sendiri sehingga ia akan membutuhkan darah tambahan.


6. Kanker

Kanker darah atau limfoma dapat membuat penderitanya mengalami kerusakan maupun penurunan jumlah sel darah merah, putih, ataupun trombosit. Selain itu radioterapi dan kemoterapi yang diberikan sebagai penanganan pada kanker juga dapat mengganggu proses produksi sel darah. Oleh karena itu, transfusi umumnya diberikan pada pasien dengan kondisi ini.


7. Covid-19

Terapi plasma kovalesen juga diberikan pada pasien yang terinfeksi virus Covid-19 dengan gejala berat. Plasma kovalesen yang diberikan berasal dari seseorang yang juga pernah terinfeksi virus Corona dan telah dinyatakan sembuh.


Risiko Transfusi Darah

Dengan prosedur yang tepat, tindakan transfusi darah memang dapat menyelamatkan jiwa. Meski demikian, tindakan medis ini juga memiliki efek samping dan risiko mulai dari yang ringan hingga berat. Berikut ini beberapa diantaranya:

1. Demam

Pasien transfusi darah umumnya akan sedikit demam beberapa jam setelah prosedur dilakukan. Hal ini cukup umum dan tidak berbahaya, namun jika disertai dengan gejala lain seperti sesak napas, pingsan, nyeri dada, atau bahkan koma, maka ini bisa menjadi tanda terjadinya masalah serius dan harus secepatnya ditangani oleh dokter.


2. Alergi

Reaksi lain yang mungkin terjadi adalah kulit kemerahan, gatal ataupun bengkak yang bisa jadi merupakan pertanda bahwa pasien transfusi mengalami alergi. Hal ini bisa terjadi jika pasien memiliki alergi terhadap zat tertentu yang terkandung dalam darah pendonor.


3. Infeksi

Beberapa jenis penyakit dapat menular melalui transfusi darah, oleh karena itu pendonor harus diperiksa terlebih dahulu untuk memastikan tidak ada virus, parasit, atau kuman tertentu yang ikut terbawa seperti malaria, hepatitis B, atau HIV.


4. Kelebihan Cairan

Risiko lainnya adalah kelebihan cairan yang dapat menimbulkan penumpukan cairan pada jaringan atau organ tubuh tertentu. Hal ini dapat menimbulkan pembekakan paru yang biasanya ditandai dengan sesak napas, nyeri dada, hingga lemas.


5. Kelebihan Zat Besi

Transfusi darah juga dapat menyebabkan kelebihan zat besi. Jika dibiarkan, hal ini akan menimbulkan gangguan pada organ jantung dan hati.


6. Gangguan Graft-versus-Host

Gangguan ini terjadi ketika sel darah putih pendonor menyerang jaringan tubuh penerima. Hal ini akan terjadi jika sistem imun penerima darah sangat lemah.


7. Ketidakcocokan Golongan Darah

Transfusi darah yang tidak cocok antara pendonor dan penerima juga dapat membahayakan. Hal ini tidak terbatas pada golongan darah secara umum saja, tapi juga antara resus positif dan negatif yang tidak cocok juga bisa berbahaya. Ketika terjadi ketidakcocokan golongan darah, maka sel-sel darah merah akan pecah dan meningkatkan kadar bilirubin dalam darah. Kadar bilirubin yang tinggi akan beracun bagi tubuh.


8. Reaksi Anafilaktik

Reaksi anafilaktik umumnya terjadi ketika proses transfusi baru dimulai. Gejalanya dapat berupa pembengkakan pada wajah dan tenggorokan, napas menjadi pendek dan tekanan darah turun.


9. Cedera Paru-paru

Cedera paru-paru akut ini terjadi karena antibodi atau zat-zat yang ada dalam darah donor merusak paru-paru. Hal ini biasanya terjadi beberapa jam setelah transfusi dimulai. Gejalanya dapat berupa turunnya tekanan darah dan demam.


Transfusi darah merupakan salah satu prosedur medis penting yang dapat menyelamatkan nyawa seseorang, terutama pada kejadian medis yang serius. Meski demikian, terdapat beberapa risiko yang perlu diwaspadai agar transfusi dapat berjalan dengan baik dan pasien bisa kembali sembuh dan sehat. Oleh karena itu, penting untuk menjalankan setiap prosedur dan tes yang diperlukan untuk meminimalisir terjadinya komplikasi serius.

56 views0 comments