Search

Rekam Medis Elektronik - Kenapa Sulit Diimplementasikan, dan Kenapa Harus Diimplementasikan.

Di industri kesehatan, rekam medis merupakan sebuah poin penting dalam memastikan agar pasien mendapatkan perawatan dan pelayanan yang tepat. Rekam medis mampu menceritakan perjalanan seorang pasien selama berada di sistem pelayanan rumah sakit. Konsep rekam medis adalah menggabungkan semua informasi kesehatan yang diperlukan untuk seorang pasien, agar dapat diakses oleh tenaga medis dimana saja dan kapan saja. Berdasarkan definisi ini, rekam medis jelas menjadi tujuan yang diharapkan oleh semua pelaku industri kesehatan.


Ada kalanya dimana dokumen rekam medis ditulis di atas kertas dan disimpan dalam bentuk tumpukan dokumen. Jadi, seorang petugas rumah sakit sering kali harus mencari dokumen rekam medis seorang pasien di antara begitu banyak tumpukan berkas dokumen lainnya. Mencari dokumen rekam medis pasien di antara tumpukan dokumen lainnya tentu merupakan pekerjaan yang sangat memakan waktu.


Oleh karena itu, munculah konsep EMR atau Electronic Medical Record. EMR adalah versi digital dari rekam medis konvensional dan merupakan bagian penting dalam praktik perawatan medis. Apalagi dengan kecepatan teknologi kesehatan dalam mendigitalisasi peralatan dan pelayanan kesehatan bagi pasien, rekam medis pun dituntut untuk direalisasikan dalam format digital.


EMR memang bisa dianggap sebagai solusi dari metode manual tulis di atas kertas yang sangat memakan waktu dan rentan kesalahan. Pasalnya, digitalisasi data pasien mampu mempersingkat proses pencarian dokumen rekam medis, pencatatan, dan penentuan tindakan oleh tim medis.


Masalah yang Muncul dengan Implementasi EMR

Berikut adalah hasil penelitian yang dilakukan Black Book Market Research terhadap 3.040 tenaga medis pada rumah sakit yang sudah menggunakan sistem EMR. Ternyata masih banyak tenaga medis yang tidak puas dengan implementasi sistem EMR di rumah sakit nya.



Meski dapat memudahkan proses medis di rumh sakit, EMR hadir bukan tanpa kendala. Nyatanya, ada beberapa praktik yang justru membuat EMR terkadang masih sulit diterapkan oleh beberapa layanan perawatan medis. Belum ada penelitian yang dapat membuktikan bahwa terjadi hasil yang lebih baik dengan implementasi EMR. Ironisnya, pemerintah sendiri sudah menetapkan kebijakan penggunaan rekam medis elektronik di rumah sakit Indonesia.


Berikut ini beberapa masalah yang muncul terkait EMR, diantaranya:

1. EMR Mengganggu Cara Kerja Tenaga Medis

Dokter harus berhadapan dengan pasien dan memberikan pelayanan terbaik. Terkadang dokter terpaksa harus mengerjakan pekerjaan perekaman data di saat semua pasien sudah dilayani. Apabila dokter tidak bisa menyelesaikan pekerjaan input data di hari itu, mungkin harus mengambil jam lembur, bahkan dikerjakan dari rumah. Hal ini bisa sangat tidak produktif bagi para dokter. Selain itu, masih banyak dokter yang belum terbiasa memberi resep tanpa ditulis tangan. Apoteker pun juga harus melakukan beberapa langkah yang lebih panjang di komputer untuk bisa menentukan resep. Dalam hal ini EMR justru menyulitkan bagi beberapa tenaga medis.


2. EMR Menyebarluaskan Data Medis yang Salah

Tujuan dibuatnya EMR adalah untuk memudahkan sistem rekam medis dan pelayanan pasien. EMR merupakan versi digital dari bagan rekam medis kertas yang biasanya ditulis oleh dokter. Meski demikian, informasi dalam EMR sering tidak sesuai dengan hasil analisa dokter, yang dimana informasi tersebut terus-menerus disimpan dalam sistem, bahkan digunakan kembali oleh tim medis lain seperti bagian keuangan atau farmasi. Apabila sistem EMR tidak diberikan audit data, maka data medis yang salah akan terus berada di dalam sistem rumah sakit. Dalam hal ini, EMR sebenarnya tidaklah jauh berbeda dari rekam medis kertas.


3. EMR Mengurangi Perhatian Dokter terhadap Pasien

Pasalnya, tenaga medis harus bekerja untuk memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik kepada pasien. Pekerjaan ini mencakup interaksi langsung seperti berbicara dan mendengarkan pasien, tanpa diganggu dengan pekerjaan dokumentasi data. Tidak sepantasnya tenaga medis menjadi sibuk dengan komputer, laptop, dan gadget lain ketika ada pasien di ruangan dokter, hanya untuk mengisi data ke dalam sistem EMR.


Keuntungan ketika EMR Sudah Optimal

EMR memang merupakan inovasi yang baik dan dibangun dengan niat untuk memudahkan praktik pelayanan kesehatan. Yang harusnya dokter bisa memberikan perhatian yang fokus kepada kondisi pasien, maka sistem EMR pun harusnya bisa membantu pekerjaan pencatatan data dan dokumentasi berkas secara digital. Dengan sistem EMR yang optimal, dokter sewajarnya bisa mengakses informasi pasiennya, baik dari rumah sakit, maupun dari rumahnya. Jika diberikan ijin, bahkan tenaga medis lain juga diperbolehkan untuk mengakses data pasien tersebut. Ini menjadi mimpi yang ingin dicapai oleh industri kesehatan dengan mengimplementasikan EMR di rumah sakit.


Ada beberapa keuntungan yang bisa diterima oleh tenaga medis ketika rumah sakit sudah mengimplementasikan sistem EMR yang sesuai kebutuhan. Berikut ini beberapa diantaranya:

1. Mengurangi Biaya Investasi Rumah Sakit

Memang sistem EMR bukan investasi yang murah bagi rumah sakit, karena harus mencakup investasi infrastruktur dan pemeliharaan yang terus-menerus. Cuman di beberapa tahun terakhir, sudah muncul aplikasi yang berbasis Cloud atau yang lebih akrab disebut aplikasi SaaS (Software as a Service). Dengan aplikasi SaaS yang dirancang dengan baik, maka sistem EMR pun bisa direalisasikan dengan berbasis Cloud sehingga memangkas investasi yang bisa dihindari rumah sakit.


2. Meminimasi Waktu Pekerjaan Tenaga Medis

Waktu merupakan aset yang sangat berharga bagi tenaga medis. Sistem EMR yang baik akan mampu memberikan hal-hal yang dibutuhkan dokter secara langsung, seperti catatan mengenai pasien, grafik kesehatan, formulir pendaftaran, resep, hasil laboratorium, dan lain-lain.


3. Mempermudah Input Data Pasien

EMR seharusnya bisa memangku tanggung jawab pada dokter untuk memasukan data pasien ke dalam sistem. Ketika dokter mengetik nama pasien pada catatannya, maka sistem sudah secara otomatis menampilkan nama pasien saat membuat resep. Ketika dokter sedang memberikan diagnosa kepada pasien, maka sistem sudah merangkumnya pada formulir konsultasi. Dengan logika ini, EMR sudah wajib paham atas apa yang perlu dibantu agar dokter bisa benar benar melayani pasien.


4. Mengintegrasikan Sistem yang Berbeda

Ketika dua sistem dalam rumah sakit (contohnya sistem penjadwalan dokter dengan sistem peresepan obat) sedang “berkomunikasi” secara langsung, besar kemungkinan akan terjadi kesalahan penafsiran. Sebuah sistem EMR perlu mengatur pengambilan dan pengiriman data antara sistem yang berbeda untuk menyelaraskan interaksi antara sistem di dalam rumah sakit.


5. Mempercepat Implementasi bagi Users

Sistem EMR mutlak harus intuitif agar dapat digunakan oleh tenaga medis secara mudah. Rumah sakit perlu memahami fitur-fitur EMR apa saja yang dibutuhkan, sehingga sistem EMR yang diimplementasikan juga bisa menghindari menggunakan fitur yang tidak diperlukan.


EMR merupakan inovasi yang dapat meningkatkan pelayanan rumah sakit kepada pasien. Meski demikian, setiap inovasi selalu memiliki kendala yang membuatnya terkadang sulit diimplementasikan. Dengan beberapa langkah solusi yang tepat, EMR dapat diterapkan dengan lebih produktif di rumah sakit.

17 views0 comments