Cara Menyusun Clinical Pathway di Rumah Sakit
Clinical pathway sering berhenti jadi dokumen. Ini cara menyusunnya agar benar-benar dipakai di pelayanan, dari pilih kasus sampai evaluasi.
Banyak rumah sakit sudah punya clinical pathway, tetapi tidak sedikit yang berhenti sebagai dokumen di lemari. Persoalannya sering bukan pada niat, melainkan pada cara menyusunnya. Cara menyusun clinical pathway yang baik menentukan apakah ia benar-benar dipakai di pelayanan atau hanya dilengkapi saat akreditasi.
Menyusun clinical pathway tidak harus rumit. Yang penting adalah melibatkan orang yang tepat, memilih kasus yang sesuai, dan menjaga isinya tetap ringkas agar mudah dijalankan sehari-hari. Kalau Anda belum familier dengan konsepnya, ada baiknya membaca dulu apa itu clinical pathway.


Pilih kasus yang tepat lebih dulu
Tidak semua kasus perlu clinical pathway. Prioritaskan kasus dengan volume tinggi, biaya besar, atau variasi pelayanan yang lebar antar dokter. Kasus seperti ini paling terasa manfaatnya ketika pelayanannya distandarkan, karena di situlah perbedaan cara kerja paling sering muncul.
Libatkan tim multidisiplin
Clinical pathway bukan dokumen milik satu orang. Susun bersama dokter, perawat, farmasi, dan penunjang yang terlibat dalam kasus tersebut. Keterlibatan sejak awal membuat isinya realistis dan meningkatkan kemungkinan benar-benar dijalankan, bukan sekadar disepakati di atas kertas.
Cara menyusun clinical pathway: susun per tahap pelayanan
Petakan alur pasien dari masuk sampai pulang, lalu tentukan pada tiap tahap: pemeriksaan yang diperlukan, tindakan, obat, dan target hasil. Acuan medisnya mengikuti pedoman resmi dan keputusan tenaga medis yang berwenang, bukan disusun sendiri tanpa dasar. Untuk gambaran bentuknya, lihat contoh clinical pathway yang benar.
Jaga tetap ringkas dan mudah dibaca
Clinical pathway yang terlalu panjang jarang dipakai. Buat sepadat mungkin sehingga bisa dilihat sekilas saat pelayanan. Kalau petugas harus membolak-balik banyak halaman, ia akan ditinggalkan.
Uji, jalankan, lalu evaluasi
Setelah disusun, uji pada beberapa kasus nyata sebelum diterapkan luas. Catat di mana pelayanan menyimpang dari pathway dan kenapa. Variasi yang wajar bisa jadi masukan untuk menyempurnakan, bukan sekadar dianggap pelanggaran.
Peran SIMRS dalam menjalankan clinical pathway
Dokumen yang bagus tetap butuh cara agar terpakai di alur kerja. Ketika pelayanan tercatat dalam satu sistem, penerapan pathway lebih mudah dipantau, dan penyimpangan lebih mudah terlihat untuk dievaluasi.
DHealth sebagai SIMRS membantu mendokumentasikan pelayanan dalam satu alur, sehingga clinical pathway tidak berhenti sebagai dokumen, melainkan menyatu dengan pencatatan sehari-hari. Isi klinis pathway tetap ditetapkan oleh tenaga medis yang berwenang.
Untuk melihat bagaimana pelayanan terdokumentasi dalam satu sistem, tim Anda dapat menjadwalkan konsultasi atau demo.