Search

Tantangan Peralatan Medis: Canggih Merawat Pasien, Ampuh Melawan Hackers

Peralatan medis sudah mulai bertransformasi secara digital. Tidak hanya peralatan medis yang sifatnya berat seperti mesin CT-Scan, mesin USG, dan sejenisnya yang umum digunakan di rumah sakit. Beberapa peralatan medis untuk keperluan mandiri juga telah dirancang agar dapat dioperasikan secara digital di rumah. Beberapa diantaranya termasuk pengukur berat badan, pengukur tekanan darah, dan lain-lain.


Seiring dengan beralihnya ke teknologi digital, maka semakin mudah pula perawatan pasien di rumah sakit. Namun di balik itu ada bahaya lain yang mengancam. Peralatan medis ini menyimpan berbagai data pasien yang sangat berharga dan bahkan tidak bisa diukur dengan angka. Tujuan dari perkembangan teknologi sebenarnya untuk merealisasikan kinerja Telemedicine, demi mempermudah komunikasi antara pasien dengan penyedia jasa kesehatan di rumah sakit. Pasien bisa melakukan pengecekan kondisinya dengan mandiri, kemudian data keseatan tersebut dapat dimonitor oleh dokter dari jarak jauh sehingga menentukan langkah pengobatan bagi pasien.


Jika data penting ini digunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, hal ini dapat menimbulkan kerugian yang sangat besar dan bahkan bisa merusak kredibilitas rumah sakit dan penyedia peralatan medis. Itulah mengapa peralatan medis kini dituntut untuk menjadi lebih canggih. Tidak hanya mampu merawat pasien secara optimal, namun juga mampu melawan serangan siber dari para hackers.


Peralatan Medis Memiliki Celah Bagi Hacker

Pada 2017 lalu, badan administrati obat dan makanan Amerika Serikat (FDA) menemukan celah keamanan pada berbagai alat kesehatan yang membuatnya rentan diretas. Sebenarnya kerentanan tersebut bukan berasal dari alat kesehatan itu sendiri, melainkan dari sistem pengawasan atau monitoring yang bekerja melalui transmitter.


Transmitter ini adalah perangkat tambahan yang digunakan pada alat kesehatan agar alat dan kondisi pasien bisa dipantau melalui teknologi cloud. Jadi, transmitter bekerja menggunakan sinyal wireless untuk mengirim dan menerima data. Hal inilah yang membuatnya rentan dibobol oleh hackers.


Ketika hackers mampu mengakses jaringan cloud yang digunakan, maka mereka mampu mengontrol berbagai kinerja alat kesehatan tersebut beserta data-data yang dimilikinya. Hal ini tentu saja bisa sangat membahayakan bagi keamanan data pasien sekaligus nyawa pasien. Di saat yang sama, kredibilitas rumah sakit juga akan tercoreng ketika hal seperti ini terjadi. Itulah mengapa kini rumah sakit juga sudah mulai mengembangkan cara untuk menutup celah yang memungkinkan terjadinya serangan siber ini.


Peralatan yang sudah lama dan belum diperbarui merupakan target mudah bagi para penjahat siber ini. Mereka menggunakan alat-alat tersebut sebagai titik akses untuk masuk ke dalam jaringan rumah sakit dan mencuri berbagai data berharga pasien. Dari data-data berharga ini, mereka akan menuntut uang dari korban agar tidak membocorkan data atau bahkan menjual informasi data tersebut kepada pihak lain seperti kasus kebocoran data BPJS yang pernah terjadi beberapa waktu lalu.


Para penjahat siber ini dimotivasi oleh uang dan menjadikan insitusi kesehatan dengan keamanan yang lemah sebagai sasarannya. Peralatan medis yang sudah dilengkapi dengan teknologi digital dan cloud dapat diserang dan hal ini dapat menghambat fungsi klinis alat tersebut sehingga berpotensi membahayakan pasien. Sejauh ini hackers diketahui memang lebih menginginkan uang daripada bertujuan untuk membahayakan nyawa pasien. Meski demikian, bukan berarti hal ini tidak dapat terjadi.


Strategi Melindungi Peralatan Medis dari Hackers

Apakah Cyber Security merupakan tanggung jawab para stakeholders rumah sakit saja? Atau bisa kah pihak lain, seperti dokter, perawat, teknisi IT, dan lain-lain, ikut serta mengambil peran dalam menghadapi isu ini? Langkah langkah apa saja yang perlu dilakukan setiap pemangku kepentingan, dan bagaimana agar semua usaha melawan cyber security di rumah sakit dapat beroperasional dengan keseluruhan dalam menangkal hackers.


Berikut adalah rangkuman hasil laporan dari Deloitte yang meliput lima langkah dasar dalam menjalankan protokol perlindungan data kesehatan di rumah sakit dari para hackers.



Peran Pasien dalam Menjaga Agar Data Tetap Aman

Institusi rumah sakit dan penyedia peralatan rumah sakit memang harus terus berusaha membuat inovasi dan menerapkan keamanan tertinggi untuk mencegah terjadinya peretasan. Hal ini dilakukan agar pasien dapat merasa tenang ketika harus menjalani perawatan menggunakan alat-alat medis di rumah sakit.


Selain insitusi kesehatan, pasien dan masyarakat juga harus turut serta berperan aktif dalam menjaga agar data mereka tetap aman dan mencegah kemungkinan terjadinya peretasan. Berikut ini beberapa langkah yang bisa dilakukan pasien maupun masyarakat pada umumnya:

  • Rajin memperbarui perangkat lunak yang digunakan.

  • Mendaftarkan peralatan tersebut kepada perusahaan pembuatnya agar pasien selalu mendapatkan informasi tenting tentang peralatan yang digunakan.

  • Selalu teliti dengan alat yang digunakan. Jika terlihat tidak berfungsi atau mengalami gangguan, segera hubungi penyedia layanan kesehatan pasien.

  • Libatkan keluarga dan perawat di rumah tentang bagaimana cara kerja alat yang digunakan dan langkah-langkah yang perlu dilakukan jika terjadi gangguan.

  • Jika terdapat kejadian serius yang mengganggu fungsi kerja alat, segera hubungi dokter.


Kejahatan siber merupakan ancaman serius bagi institusi kesehatan. Itulah mengapa baik institusi kesehatan maupun penyedia peralatan kesehatan harus selalu mengetahui informasi terkini tentang strategi dan langkah-langkah optimal untuk melawan penjahat siber.

20 views0 comments