Sama tapi Berbeda: EMR (Electronic Medical Record) vs. EHR (Electronic Health Record)
- nicoamon
- 18 Okt 2021
- 6 menit membaca
Penggunaan EMR (Electronic Medical Record) dan EHR (Electronic Health Record) semakin berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini berkaitan dengan upaya industri kesehatan untuk melakukan segala hal yang diperlukan untuk menyediakan kualitas pelayanan medis yang lebih baik melalui pemanfaatan sistem informasi rumah sakit yang andal sekaligus meningkatkan profitabilitas bisnis rumah sakit.
Masih banyak yang mengira bahwa EMR dan EHR adalah dua hal yang sama. Pasalnya, banyak tenaga kesehatan yang menggunakan dua istilah ini secara berganti-gantian. Dan tidak sedikit yang masih belum paham perbedaan antara keduanya. Padahal, EMR dan EHR adalah konsep yang berbeda dan menawarkan manfaat yang berbeda pula.
Rekam medis sendiri sudah mengalami begitu banyak transformasi sejak pertama kali digunakan. Tujuan utama diperlukannya rekam medis agar bisa mencatat apa instruksi dokter untuk kondisi seorang pasien (Oral menjadi Written). Melihat begitu banyak informasi yang perlu dicatat, maka diperlukan struktur yang baku dan jelas atas pencatatan informasi kesehatan tersebut (Unstructured menjadi Structured). Dengan pencatatan yang lebih rapi, maka mulai diusulkan agar format catatan rekam medis berbentuk digital (Paper menjadi Digital). Lalu, digitalisasi informasi kesehatan ini pun menuntut agar informasi bisa diakses oleh sekian banyak pihak (Chart menjadi System).
EMR (Electronic Medical Record)
EMR adalah versi digital semua informasi kesehatan yang bisa ditemukan terkait seorang pasien. EMR umumnya berisi riwayat kesehatan, diagnosa, obat-obatan, tanggal imunisasi, alergi, dan lain-lain. Sistem ini memudahkan petugas kesehatan dalam mengidentifikasi pasien mana yang membutuhkan pemeriksaan segera dan kondisi kesehatan mereka.
Meski demikian EMR memiliki kekurangan, yaitu informasi pasien tidak dapat dibagikan ke lingkungan di luar fasilitas kesehatan tersebut. Hal ini bisa menyulitkan perawatan, misalnya ketika seorang dokter umum harus merujuk pasiennya ke dokter spesialis. Dokter perlu membagikan informasi tentang kesehatan pasien kepada dokter spesialis tersebut, namun EMR tidak memungkinkan hal ini.
Agar dokter spesialis mengetahui kondisi pasien yang sudah diketahui, maka tenaga medis harus mencetak diagram pasien dan mengirimkannya kepada spesialis. Hal ini tidaklah ideal karena dapat membahayakan persyaratan privasi pasien. Selain itu, dokter spesialis juga tidak bisa menambahkan informasi yang ditemukan ke dalam catatan rekam medis pada sistem EMR dokter sebelumnya. Tenaga medis harus memasukkan data tersebut dari spesialis yang mengirimkan informasi tersebut melalui fax atau surat.
Berdasarkan definisi dan kekurangan EMR di atas, maka data EMR sebenarnya tidaklah jauh berbeda dari rekam medis konvensional. Perpindahan dan penambahan informasi kesehatan seorang pasien antar fasilitas layanan kesehatan di dalam sebuah rumah sakit masih harus dilakukan secara manual.
EHR (Electronic Health Record)
EHR pada dasarnya melakukan hal yang sama dengan EMR ditambah dengan beberapa fitur tambahan lainnya dan di saat yang sama meningkatkan pertumbuhan internal dan eksternal rumah sakit. EHR fokus pada informasi kesehatan pasien secara keseluruhan, melebihi data klinis standar yang dikumpulkan di fasilitas pelayanan kesehatan dan meliputi pandangan perawatan pasien yang lebih luas.
EHR dirancang untuk mencapai lebih dari rumah sakit yang awalnya mengumpulkan dan menyusun informasi. Sistem ini dibangun untuk membagi informasi dengan penyedia layanan kesehatan lainnya seperti laboratorium, rehabilitas, dan dokter spesialis. Oleh karena itu EHR akan memiliki semua informasi dari semua penyedia layanan kesehatan yang terlibat dalam perawatan pasien.
Data EHR dapat dibuat, diatur, dan dikonsultasikan dengan semua tenaga dan staf kesehatan yang berwenang di lebih dari satu rumah sakit. Selain itu, informasi ini juga bergerak dengan pasien, ke spesialis, rumah sakit, rumah perawatan di kota, provinsi, bahkan negara yang berbeda.
Inilah yang membuat EHR mempunyai manfaat lebih dibandingkan EMR. Ketika informasi dibagikan secara aman, maka sistem tersebut menjadi semakin kuat. Perawatan kesehatan merupakan upaya tim dan pembagian informasi secara aman mendukung upaya ini.
Perbedaan Utama antara EMR dan EHR
Perbedaan utama dari kedua sistem ini adalah bahwa EMR “merekam” medis pasien digital untuk satu praktik kesehatan tunggal. Sebaliknya, EHR memungkinkan dokter untuk berbagai rekam medis dengan penyedia layanan kesehatan lain terlepas dari lokasinya. Singkatnya, EMR menyimpan catatan medis pasien secara lebih sederhana sedangkan EHR menyediakan laporan kesehatan pasien secara keseluruhan dengan lebih luas dan terperinci.
Kenyataannya, EHR melakukan hal yang sama dengan EMR, tapi mempunyai kemampuan yang lebih besar. EHR biasanya memiliki perangkat dan fitur yang lebih banyak untuk menyediakan tampilan rekaman medis yang lebih luas. Hal ini berlawanan dengan EMR yang sering kali jauh lebih terbatas.
Penting untuk diingat bahwa para ahli industri kesehatan kini sudah mulai menggunakan EMR dan EHR secara bergantian. Banyak sistem menganggap EMR akan menawarkan sejumlah fitur yang sama dan kemampuan integrasi seperti EHR. Berikut ini beberapa perbedaan lain dari EHR dan EMR:
EMR tidak dirancang untuk dibagikan di luar masing-masing klinik.
EHR memungkinkan informasi medis pasien bergerak bersama pasien ke berbagai bagian pelayanan kesehatan yang berbeda seperti spesialis, laboratorium, fasilitas pencitraan, apotek, dan lain-lain.
EHR menyediakan penggunanya riwayat kesehatan pasien secara keseluruhan tanpa batasan lokasi.
Implementasi Rekam Medis Elektronik Berdasarkan PMK Nomor 24 Tahun 2022
Dalam konteks pelayanan kesehatan di Indonesia, perdebatan antara adopsi EMR dan EHR kini telah memiliki payung hukum yang jelas. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) Nomor 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis, seluruh fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) diwajibkan untuk mengimplementasikan Rekam Medis Elektronik (RME). Regulasi ini tidak hanya menuntut perpindahan dari catatan kertas ke digital, melainkan juga menekankan pentingnya standardisasi data klinis.
Kehadiran regulasi ini mendorong fasyankes untuk tidak hanya berhenti pada sistem internal yang terisolasi. Manajemen rumah sakit maupun klinik harus memastikan bahwa sistem pencatatan yang mereka gunakan mampu mendukung interoperabilitas data secara aman. Dengan demikian, kepatuhan terhadap hukum yang berlaku menjadi motor penggerak utama dalam pembaruan teknologi informasi di sektor kesehatan nasional.
Konektivitas Platform SATUSEHAT Kemenkes RI sebagai Standardisasi EHR
Guna mewujudkan transformasi kesehatan yang menyeluruh, Kementerian Kesehatan RI meluncurkan platform nasional SATUSEHAT. Platform ini berfungsi sebagai ekosistem integrasi data kesehatan yang mengadopsi prinsip utama dari EHR. Melalui integrasi ini, data resume medis pasien dari berbagai fasyankes yang berbeda dapat saling terhubung dan diakses secara real-time oleh tenaga medis yang berwenang.
Transformasi menuju ekosistem digital ini menuntut kesiapan infrastruktur SIMRS yang andal di setiap fasilitas kesehatan. Konektivitas dengan platform SATUSEHAT memastikan bahwa setiap rujukan, riwayat alergi, hingga riwayat pengobatan pasien dapat melintasi sekat antarinstansi dengan aman.
Langkah standardisasi nasional ini menjadi kunci penting dalam meminimalkan risiko kesalahan medis, mempercepat proses diagnosis, serta meningkatkan efisiensi operasional fasyankes secara berkelanjutan.
Perlukah Beralih ke EHR, atau Sudah Cukup dengan EMR
Meski keduanya merupakan sistem yang berbeda, ada sejumlah manfaat yang dimiliki keduanya. Baik EMR maupun EHR diharapkan dapat membuat perawatan kesehatan menjadi lebih efisien dan hemat biaya. Berikut ini beberapa manfaat umum baik EHR maupun EMR.
Keduanya membantu mengurangi kesalahan medis dan memaksimalkan perawatan kesehatan dengan memastikan informasi tetap akurat dan terbaru.
Diagram dan dokumen pasien jauh lebih jelas karena dilaporkan secara elektronik.
Mengurangi kemungkinan adanya tes yang sama sehingga dapat menghemat waktu dan biaya baik bagi pasien maupn penyedia layanan kesehatan.
Keduanya mendorong partisipasi pasien sehingga dapat mendorong gaya hidup yang lebih sehat dan memberikan pengetahuan medis.
Informasi pasien lebih lengkap dan terkini sehingga membantu dibuatnya diagnosa dan perawatan yang lebih akurat dan tepat.
Memilih sistem yang tepat untuk rumah sakit merupakan proses yang membingungkan dan memakan banyak waktu bagi banyak orang. Dengan banyaknya pilihan yang tersedia, maka semakin sulit pula menentukan pilihan. Meski demikian, mencari pendapat dari staf kesehatan merupakan salah satu cara terbaik untuk mengetahui perangkat dan fitur mana yang sesuai dengan rumah sakit tersebut.
Dalam hal EHR dan EMR, maka yang harus mempertimbangkan adalah apakah rumah sakit rutin berbagi informasi dengan penyedia layanan kesehatan lain atau tidak. Jika jawabannya adalah ya, maka EHR merupakan pilihan sistem yang tepat.
Sebaliknya, jika rumah sakit tersebut fokus pada satu jenis perawatan kesehatan tertentu saja atau lingkupnya lebih sempit dan hanya pada rumah sakit itu sendiri, maka EMR adalah pilihan yang lebih memadai.
Secara istilah EMR dan EHR memang hanya berbeda di satu huruf saja, tapi keduanya sebenarnya sangatlah berbeda. Dengan memahami perbedaan mendasar dan segala fitur yang ditawarkan keduanya, maka rumah sakit dapat memilih dengan lebih akurat sistem mana yang cocok bagi rumah sakit.
Mengingat pentingnya integrasi data di era digital ini, fasyankes Anda membutuhkan dukungan platform healthcare digital yang komprehensif. Solusi terintegrasi dari DHealth hadir untuk membantu rumah sakit Anda melakukan transisi dari sistem konvensional menuju ekosistem digital yang modern dan sesuai regulasi pemerintah.
Pertanyaan Populer Seputar EMR dan EHR
Apa perbedaan mendasar antara EMR dan EHR?
Jawab: EMR merupakan versi digital dari rekam medis pasien yang hanya dapat diakses secara internal di satu fasilitas kesehatan. Sementara itu, EHR mencakup riwayat kesehatan pasien secara menyeluruh dan dirancang untuk dapat dibagikan secara aman ke berbagai fasilitas kesehatan yang berbeda.
Apakah rumah sakit di Indonesia wajib mengintegrasikan rekam medis digital mereka?
Jawab: Ya, berdasarkan PMK Nomor 24 Tahun 2022, seluruh fasilitas pelayanan kesehatan wajib menyelenggarakan rekam medis elektronik yang terintegrasi, salah satunya dengan terhubung ke platform SATUSEHAT milik Kementerian Kesehatan RI.
Bagaimana platform healthcare digital membantu pengelolaan EMR dan EHR?
Jawab: Sistem informasi modern berfungsi otomatis dalam mengintegrasikan data klinis internal fasyankes, memfasilitasi pertukaran data antar-unit, serta menjamin keamanan enkripsi data sesuai dengan standar hukum yang berlaku.
Ingin tahu lebih lanjut? Jadwalkan demo gratis SIMRS DHealth atau hubungi tim kami via Whatsapp.






